{"id":45533,"date":"2026-05-26T19:00:11","date_gmt":"2026-05-26T10:00:11","guid":{"rendered":"https:\/\/asiajournaux.com\/?p=45533"},"modified":"2026-05-26T19:00:11","modified_gmt":"2026-05-26T10:00:11","slug":"pelindo-petikemas-setor-rp173-triliun-ke-negara-dukung-fiskal-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/asiajournaux.com\/?p=45533","title":{"rendered":"Pelindo Petikemas Setor Rp1,73 Triliun ke Negara, Dukung Fiskal Nasional"},"content":{"rendered":"<p>Dengan meningkatnya aktivitas logistik dan perdagangan, sektor kepelabuhanan diproyeksikan akan terus menjadi salah satu fondasi penting pertumbuhan ekonomi Indonesia. <\/p>\n<p><b>SURABAYA<\/b>&#8211; PT Pelindo Terminal Petikemas mencatat kontribusi<br \/>\nkepada negara mencapai Rp1,73 triliun sepanjang tahun 2025. Setoran ini<br \/>\nmencerminkan kuatnya peran perusahaan dalam menyokong fiskal nasional.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Kontribusi tersebut terdiri atas setoran<br \/>\npajak sebesar Rp1,45 triliun, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) senilai<br \/>\nRp55,59 miliar, serta pembayaran konsesi sebesar Rp224,5 miliar.\u00a0 Dari total pajak yang disetorkan, kontribusi<br \/>\nterbesar berasal dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar Rp485,45 miliar.<br \/>\nSelain itu, terdapat kontribusi signifikan dari PPh Pasal 25\/29 senilai<br \/>\nRp360,13 miliar dan PPh Pasal 21 sebesar Rp267,35 miliar.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Corporate Secretary <a href=\"https:\/\/www.pelindotpk.co.id\/en-terminal\">PT Pelindo Terminal<br \/>\nPetikemas<\/a> Widyaswendra mengatakan kontribusi perusahaan kepada negara merupakan<br \/>\nwujud kepatuhan terhadap regulasi dan kewajiban yang telah ditetapkan<br \/>\npemerintah. Menurutnya, setoran sebesar Rp1,73 triliun tersebut menjadi bukti<br \/>\nkomitmen dan kontribusi perusahaan dalam mendukung perekonomian nasional.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>\u201cDukungan tersebut menjadi wujud nyata<br \/>\nkomitmen perusahaan sebagai bagian dari Pelindo Group dalam mendukung<br \/>\npembangunan nasional melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),\u201d<br \/>\nujarnya, Selasa (26\/5\/2026).<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Ia yakin dengan meningkatnya aktivitas<br \/>\nlogistik dan perdagangan, sektor kepelabuhanan diproyeksikan akan terus menjadi<br \/>\nsalah satu fondasi penting pertumbuhan ekonomi Indonesia. Efisiensi layanan<br \/>\nterminal petikemas juga diharapkan mampu menekan biaya logistik nasional,<br \/>\nmempercepat distribusi barang, memperkuat daya saing ekspor, sekaligus<br \/>\nmeningkatkan penerimaan negara secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Hal itu diperkuat dengan data dari Badan<br \/>\nPusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa sektor transportasi dan<br \/>\npergudangan nasional tumbuh 8,98 persen secara tahunan (year on year\/yoy) pada<br \/>\nTriwulan IV tahun 2025. Capaian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sektor<br \/>\nlogistik menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi<br \/>\ndan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Anton Agus Setyawan menilai<br \/>\nsektor logistik Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang seiring<br \/>\nmeningkatnya aktivitas perdagangan antarpulau maupun antarnegara.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>\u201cMemang sebenarnya sejak awal tahun 2000-an<br \/>\nbisnis logistik ini mulai tumbuh di Indonesia. Ini seiring dengan maraknya<br \/>\nmekanisme industri yang melakukan perdagangan antarpulau maupun antarnegara,\u201d<br \/>\njelas Anton ketika dihubungi Jumat (22\/5\/2026).<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Sebagai negara kepulauan, Indonesia<br \/>\nmembutuhkan sistem distribusi yang kuat agar rantai pasok berjalan efisien.<br \/>\nAnton menilai pembangunan infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir telah<br \/>\nmembantu mendukung sektor logistik, terutama melalui pembangunan jalan tol.<br \/>\nNamun, pengembangan pelabuhan dan konsep tol laut dinilai masih perlu<br \/>\ndioptimalkan.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Optimalisasi pelabuhan akan berdampak<br \/>\nlangsung terhadap efisiensi distribusi barang, khususnya di kawasan Indonesia<br \/>\nTimur. Hal itu dinilai penting untuk menekan disparitas harga antarwilayah.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>\u201cBagaimana logistik <i>supply chain<\/i> di<br \/>\nPapua itu bisa lebih baik sehingga perbedaan harga beberapa produk komoditas<br \/>\nbisa dikurangi dan harganya menjadi lebih murah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><b>Modernisasi Pelabuhan<\/b><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>PT Pelindo Terminal Petikemas juga terus<br \/>\nmelakukan modernisasi dan penguatan kapasitas pelabuhan peti kemas melalui<br \/>\npenambahan dan relokasi alat bongkar muat di sejumlah terminal strategis.<br \/>\nLangkah ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi logistik dan mempercepat<br \/>\ndistribusi barang.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Sejumlah alat utama bahkan telah tiba di<br \/>\nterminal tujuan, seperti tambahan empat unit Quay Container Crane (QCC) di TPK<br \/>\nSemarang dan satu unit QCC di IPCTPK Panjang. Terminal Petikemas Surabaya<br \/>\nmemperoleh tambahan 14 unit Rubber Tyred Gantry (RTG) dan empat unit QCC untuk<br \/>\nmemperkuat kapasitas bongkar muat.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Penguatan fasilitas juga dilakukan di<br \/>\nterminal regional, seperti pengiriman satu unit RTG ke TPK Kendari, empat unit<br \/>\nRTG ke TPK Banjarmasin, dan satu unit RTG ke TPK Nilam guna mendukung<br \/>\nkonektivitas logistik antardaerah.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Selain itu, sejumlah alat tengah dalam<br \/>\nproses produkti yakni dua unit QCC dan empat unit RTG untuk TPK Belawan, dua<br \/>\nUnit QCC untuk TPK Perawang, dan dua unit RTG untuk Terminal Kijing.<br \/>\nOptimalisasi juga dilakukan melalui relokasi alat antarterminal, termasuk<br \/>\npemindahan dua unit QCC dari TPS Surabaya ke TPK Berlian.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Pakar Maritim dari Institut Teknologi<br \/>\nSepuluh Nopember (ITS) Raja Oloan Saut Gurning mengatakan peningkatan jumlah<br \/>\nalat bongkar muat pada dasarnya merupakan respons atas kenaikan kunjungan kapal<br \/>\ndan volume kontainer yang harus ditangani terminal. Peningkatan trafik peti<br \/>\nkemas menjadi indikator tumbuhnya aktivitas ekonomi dan perdagangan laut.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>\u201cSecara mendasar, kenaikan kedatangan kapal<br \/>\nyang membawa kargo dalam kemasan kontainer menandakan adanya kenaikan ekonomi.<br \/>\nTurunannya adalah perdagangan atau interaksi ekonomi lewat laut,\u201d katanya saat<br \/>\ndihubungi, Selasa (26\/5\/2026).<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Namun demikian, efisiensi terminal peti<br \/>\nkemas tidak melulu ditentukan oleh jumlah alat, tetapi juga kesiapan<br \/>\ninfrastruktur pendukung seperti dermaga, lapangan penumpukan, gudang kontainer,<br \/>\nhingga gate keluar masuk terminal. Salah satu indikator utama efisiensi<br \/>\nterminal adalah kemampuan menekan waktu kunjungan kapal atau turn around time<br \/>\nagar tetap sesuai slot pelayanan yang tersedia.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Selain relokasi alat dari terminal yang<br \/>\ntingkat utilisasinya lebih rendah, PT Pelindo Terminal Petikemas juga melakukan<br \/>\nretrofitting atau pembaruan alat lama untuk memperpanjang usia operasional dan<br \/>\nmeningkatkan performa.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Penguatan kapasitas di terminal regional<br \/>\njuga dinilai strategis. Di Terminal Kijing, misalnya, lonjakan aktivitas<br \/>\nlogistik sepanjang 2025 tercermin dari peningkatan kunjungan kapal hingga 15%<br \/>\natau mencapai 741 panggilan kapal.<\/p>\n<p>\u201cTerminal Kijing mengalami lonjakan<br \/>\nkunjungan kapal dengan volume kargo nonpetikemas yang cukup besar, baik curah<br \/>\nkering maupun curah cair dari industri hilirisasi kelapa sawit dan alumina,\u201d<br \/>\nujarnya.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Ia menyebut selama ini operasional peti<br \/>\nkemas di Kijing masih banyak bergantung pada Harbour Mobile Crane (HMC) dan<br \/>\nReach Stacker sehingga tambahan alat dinilai penting untuk meningkatkan<br \/>\nproduktivitas layanan.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Sementara itu, TPK Banjarmasin disebut<br \/>\nmenjadi salah satu urat nadi logistik utama di Kalimantan dengan arus barang<br \/>\ndomestik yang terus menunjukkan pertumbuhan.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>\u201cArus barang domestik di koridor ini<br \/>\nmenunjukkan resiliensi yang kuat, terutama dipicu konsumsi domestik dan<br \/>\nkebutuhan industri hinterland pendukung pertambangan,\u201d katanya. Dampaknya,<br \/>\nfrekuensi kunjungan kapal peti kemas domestik terus meningkat dan mulai memberi<br \/>\ntekanan terhadap kapasitas lapangan penumpukan.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Adapun di Kendari, kebutuhan penguatan<br \/>\nkapasitas terminal meningkat sejak operasional dipindahkan ke Bungkutoko atau<br \/>\nKendari New Port. Sejak operasional dipindahkan ke Bungkutoko, kapasitas<br \/>\nterminal melonjak signifikan hingga menyentuh kisaran 116.000 TEUs.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Sementara, pengamat transportasi sekaligus<br \/>\nanggota Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Tory<br \/>\nDamantoro, menilai kontribusi PT Pelindo Terminal Petikemas terhadap negara<br \/>\nmembuktikan bahwa perusahaan memiliki posisi strategis sebagai \u201cjangkar fiskal\u201d<br \/>\nyang mendukung pembangunan nasional. <\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>\u201cSebagai operator pelabuhan komersial<br \/>\nnasional, Pelindo punya peran sejati sebagai enabler ekonomi makro agar target<br \/>\npenurunan biaya logistik menjadi 8 persen terhadap PDB dapat tercapai,\u201d ujarnya<br \/>\nketika dihubungi Selasa (26\/5\/2026).<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Ia juga mendorong agar perseroan melakukan<br \/>\nefisiensi layanan pelabuhan agar dapat menciptakan efek berganda (multiplier<br \/>\neffect) bagi perekonomian nasional. Ketika biaya logistik turun dan arus barang<br \/>\nsemakin lancar, volume perdagangan nasional akan meningkat dan memperluas basis<br \/>\npajak negara secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Menurutnya, PT Pelindo Terminal Petikemas<br \/>\nkini dihadapkan dengan tantangan membangun efisiensi logistik yang lebih luas<br \/>\nmelalui konektivitas antarpulau dan integrasi sistem distribusi nasional.<br \/>\nSebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan sistem logistik maritim yang<br \/>\nmampu menjaga keseimbangan arus barang antardaerah agar biaya logistik dapat<br \/>\nditekan.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>\u201cPelindo harus mengambil peran lebih besar,<br \/>\nbukan sekadar efisiensi operasi pelabuhan, tetapi juga efisiensi alokatif<br \/>\ngeografis agar konektivitas logistik antarpulau menjadi lebih seimbang dan<br \/>\nmurah,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Tory menilai terminal petikemas memiliki<br \/>\nperan vital dalam mendukung ekspor nasional. Standarisasi terminal petikemas<br \/>\ndisebut menjadi kebutuhan utama industri masa depan Indonesia, mulai dari<br \/>\nmanufaktur, agribisnis olahan, hingga industri hilirisasi.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>Karena itu, Pelindo dinilai perlu<br \/>\nbertransformasi dari sekadar operator pelabuhan menjadi integrator rantai pasok<br \/>\nnasional. Bagaimanapun percepatan arus barang di pelabuhan juga sangat<br \/>\nmenentukan daya tarik investasi Indonesia di tengah persaingan global.<br \/>\nEfisiensi pelabuhan akan meningkatkan kepastian waktu distribusi barang serta<br \/>\nmenekan biaya logistik industri. Hal tersebut dinilai penting agar Indonesia<br \/>\ntidak hanya menjadi pasar konsumsi, tetapi juga mampu masuk dalam rantai pasok<br \/>\nglobal atau Global Value Chain (GVC).<\/p>\n<p>Press Release juga sudah tayang di <a href=\"https:\/\/vritimes.com\/id\/articles\/963770a9-0bd8-410c-ac03-2dcf3aaa83d6\/e1d81441-2b79-460b-be84-7550841052a6\">VRITIMES<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dengan meningkatnya aktivitas logistik dan perdagangan, sektor kepelabuhanan diproyeksikan akan terus menjadi salah satu fondasi penting pertumbuhan ekonomi Indonesia. SURABAYA&#8211; PT Pelindo Terminal Petikemas mencatat kontribusi kepada negara mencapai Rp1,73 triliun sepanjang tahun 2025. Setoran ini mencerminkan kuatnya peran perusahaan dalam menyokong fiskal nasional. \u00a0 Kontribusi tersebut terdiri atas setoran pajak sebesar Rp1,45 triliun, Penerimaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45534,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-45533","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/45533","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=45533"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/45533\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/45534"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=45533"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=45533"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=45533"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}