{"id":35902,"date":"2025-11-25T22:08:58","date_gmt":"2025-11-25T13:08:58","guid":{"rendered":"https:\/\/asiajournaux.com\/?p=35902"},"modified":"2025-11-25T22:43:03","modified_gmt":"2025-11-25T13:43:03","slug":"film-nia-kisah-dari-desa-kecil-di-sumatera-menggugah-nurani-seluruh-negeri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/asiajournaux.com\/?p=35902","title":{"rendered":"Film &#8220;Nia&#8221; kisah dari desa kecil di Sumatera, menggugah nurani seluruh Negeri."},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta; \u00a0Suasana haru dan kehangatan memenuhi<br \/>\nEpicentrum XXI Jakarta pada Gala Premier <b>film<br \/>\n\u201cNia Kurnia Sari<\/b>\u201d, Senin malam, <b>24<br \/>\nNovember 2025.<\/b> Film yang diangkat dari kisah tragis nyata di Kabupaten<br \/>\nPadang Pariaman ini resmi diputar perdana, disambut antusias oleh jajaran<br \/>\npemain, tim produksi, tokoh perfilman nasional, serta ratusan tamu undangan.<\/p>\n<p>Diproduksi oleh \u00a0<b>PH <\/b><b>786<br \/>\nProduction<\/b> bekerja sama dengan <b>PT. Smaradana Pro<\/b>, film ini semakin<br \/>\nmemikat perhatian publik karena keberanian mengangkat realitas pedesaan di daerah Padang<br \/>\nPariaman. Dengan sentuhan emosional yang kuat,<br \/>\nfilm hasil garapan <b>Aditya Gumay<\/b> dan <b>Ronny Mepet<\/b> ini berhasil menampilkan<br \/>\ntragedi yang tidak hanya menyayat, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang<br \/>\nkemanusiaan.<\/p>\n<p>Film ini mengangkat kehidupan Nia Kurnia Sari<br \/>\n(diperankan oleh <b>Syakira Humaira<\/b>),<br \/>\nseorang remaja 18 tahun yang menjual gorengan untuk menghidupi ibunya, Eli<br \/>\n(Helsi Herlinda), yang mengidap penyakit tiroid, serta dua saudara tirinya.<\/p>\n<p>Dalam kesederhanaan dan ketaatannya, Nia<br \/>\nselalu menjadi sosok yang ceria dan pekerja keras. Namun takdir pahit<br \/>\nmenimpanya ketika ia menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan oleh <b>Andri (Qya Ditra)<\/b>, seorang pengangguran<br \/>\ndan pecandu Narkoba. Pencarian<br \/>\nintensif selama tiga hari melibatkan warga, polisi, dan sosok Makwo yang diperankan begitu kuat oleh <b>Neno Warisman.<\/b><\/p>\n<p>Keberadaan Neno Warisman sebagai Makwo menjadi<br \/>\nsalah satu kekuatan emosional film ini. Dengan ekspresi keibuan dan energi<br \/>\nspiritualnya, Neno menghadirkan karakter yang menjadi pelita di tengah<br \/>\nkegelapan tragedi. Ia menggambarkan sosok Makwo sebagai penggerak harapan,<br \/>\npemimpin pencarian, sekaligus suara nurani masyarakat.<\/p>\n<p>Kehadiran Neno<br \/>\nmembuat film ini semakin hidup dan bermakna bagi penonton.<\/p>\n<p>Tidak hanya<br \/>\nakting yang menyentuh, film \u201cNia Kurnia Sari\u201d juga diperkuat oleh musik yang<br \/>\ndigarap oleh <b>Adam S. Permana<\/b><b>,<\/b> yang selalu bermitra dengan Smaradana pro dalam<br \/>\nsetiap produksi film garapan <b>Aditya Gumay<\/b>. Komposer ini dikenal mampu menyatukan<br \/>\nkeindahan musik dengan kedalaman emosi. Melalui sentuhan musiknya, Adam<br \/>\nmenghadirkan atmosfer pedesaan yang otentik, kepedihan keluarga, hingga harapan<br \/>\nyang bersinar melalui setiap adegan menjadikan<br \/>\npengalaman menonton semakin menghanyutkan.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" style=\"width: 100%\" src=\"https:\/\/imagedelivery.net\/H6_s_Eb_ylTWnSEV3HlmYQ\/prd\/05829ee6-8f9a-43fa-a426-eb4b91a0837c\/public\" alt=\"sumber foto:istimewa\" \/><\/p>\n<p>Film Nia akan resmi tayang serentak pada \u00a04<br \/>\nDesember 2025, di bioskop seluruh Indonesia.<\/p>\n<p>Film ini lolos dengan kategori 13+<br \/>\ndari LSF, film ini menyajikan edukasi tentang kerentanan perempuan, tekanan<br \/>\nsosial-ekonomi, dan pentingnya solidaritas antarwarga.<\/p>\n<p>Tantangan<br \/>\nPara Pemain dalam Menghidupkan Kisah Nyata Para pemain kompak menegaskan bahwa<br \/>\nmengangkat kisah nyata bukan pekerjaan ringan. Pendalaman karakter menjadi<br \/>\nperan kunci keberhasilan film ini.<\/p>\n<p><b>Syakira Humaira,<\/b> pemeran utama sebagai Nia, mengaku harus menjalani pendalaman<br \/>\nintens:<\/p>\n<p>\u201c<i>Saya belajar langsung ke warga<br \/>\nMinang\u2014bahasa, gestur, cara kerja, sampai interaksi sehari-hari. Tantangannya<br \/>\nbesar karena ini tokoh nyata dan kisahnya sangat menyentuh,\u201d ungkapnya.<\/i><\/p>\n<p><b>Qya Ditra,<\/b> pemeran Andri, menyebut peran antagonis ini sebagai yang paling<br \/>\nberat dalam kariernya:<\/p>\n<p><i>\u201cSaya harus memahami pola pikir pecandu dan pelaku tindakan<br \/>\nnegatif. Itu sangat menguras emosi.\u201d<\/i><\/p>\n<p><b>Helsi Herlinda,<\/b> pemeran ibu Nia, mengaku proses syuting berlangsung sangat<br \/>\nemosional:<\/p>\n<p>\u201c<i>Selama syuting saya memilih tidak bicara<br \/>\ndengan Ditra. Saya harus benar-benar membenci karakternya untuk mendalami peran<br \/>\nseorang ibu yang kehilangan anak.\u201d<\/i><\/p>\n<p>Aktor senior Zainal Chaniago bahkan menyebut film ini sebagai<br \/>\nkarya paling membekas dalam 35 tahun perjalanan kariernya\u2014menandakan betapa<br \/>\nkuatnya dampak emosional film ini bagi seluruh pemain.<\/p>\n<p>Tim produksi<br \/>\nberharap film ini dapat menjadi cermin sosial bagi masyarakat Indonesia.<\/p>\n<p>Film ini<br \/>\ntidak sekadar menggambarkan tragedi; ia menyoroti kerentanan perempuan, tekanan<br \/>\nekonomi, keterbatasan aparat di daerah, hingga pentingnya solidaritas warga.<\/p>\n<p>Pesan yang<br \/>\ningin disampaikan jelas: Perlindungan terhadap perempuan bukan hanya tugas<br \/>\nnegara, tetapi tanggung jawab bersama.(Red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta; \u00a0Suasana haru dan kehangatan memenuhi Epicentrum XXI Jakarta pada Gala Premier film \u201cNia Kurnia Sari\u201d, Senin malam, 24 November 2025. Film yang diangkat dari kisah tragis nyata di Kabupaten Padang Pariaman ini resmi diputar perdana, disambut antusias oleh jajaran pemain, tim produksi, tokoh perfilman nasional, serta ratusan tamu undangan. Diproduksi oleh \u00a0PH 786 Production [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":35904,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-35902","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/35902","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=35902"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/35902\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":35903,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/35902\/revisions\/35903"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/35904"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=35902"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=35902"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=35902"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}