{"id":31413,"date":"2025-10-06T18:53:52","date_gmt":"2025-10-06T09:53:52","guid":{"rendered":"https:\/\/asiajournaux.com\/?p=31413"},"modified":"2025-10-06T19:43:11","modified_gmt":"2025-10-06T10:43:11","slug":"jaringan-irigasi-air-tanah-kementerian-pu-telah-mengubah-wajah-pertanian-gunungkidul-panen-tiga-kali-setahun-jadi-kenyataan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/asiajournaux.com\/?p=31413","title":{"rendered":"Jaringan Irigasi Air Tanah Kementerian PU Telah Mengubah Wajah Pertanian Gunungkidul, Panen Tiga Kali Setahun Jadi Kenyataan"},"content":{"rendered":"<p>Gunungkidul, 6 Oktober 2025 &#8211; Kehadiran Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di Dukuh Bulak Blimbing, Kelurahan Karangrejek, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, telah membawa perubahan besar bagi para petani setempat. Sistem irigasi modern yang bersumber dari air tanah ini kini menjadi tumpuan baru dalam menjaga produktivitas lahan pertanian petani di wilayah karst Gunungkidul, yang biasanya sangat bergantung pada air hujan.<\/p>\n<p>Keberhasilan program JIAT di Gunungkidul<br \/>\nditopang oleh infrastruktur yang andal. Keberadaannya pun telah memberikan manfaat bagi<br \/>\npeningkatan luas tambah tanam (LTT) hingga 32 hektar. Hal ini dimungkinkan<br \/>\nberkat tersedianya sistem pompa air tanah dengan sumur dalam yang mencapai<br \/>\nkedalaman 100 meter. Selain itu, infrastruktur pendukung seperti jaringan<br \/>\ndistribusi sepanjang 4,67 kilometer, serta rumah genset dan panel pompa,<br \/>\nberfungsi untuk menjaga suplai air tetap stabil sepanjang tahun dengan debit<br \/>\nproduksi mencapai 30 liter per detik.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" style=\"width: 100%\" src=\"https:\/\/imagedelivery.net\/H6_s_Eb_ylTWnSEV3HlmYQ\/22e3b438-2f8f-4fe0-8683-7d43eae93300\/public\" alt=\"Image\" \/><\/p>\n<p>Siswo<br \/>\nMulyono, seorang petani dari Dukuh Bulak Blimbing RT 13, dengan antusias<br \/>\nmenuturkan bahwa sejak pompa air tanah mulai beroperasi, lahan sawah di desanya<br \/>\nmenjadi jauh lebih produktif dari sebelumnya.<\/p>\n<p>\u201cAirnya<br \/>\nlancar, cukup untuk empat hektare sawah di blok kami. Sekarang kami bisa tanam<br \/>\ntiga kali setahun\u2014padi dan palawija seperti jagung atau kacang setelah panen<br \/>\npadi. Kadang kalau masih sempat, lanjut lagi dengan sayuran,\u201d ujar Siswo sambil<br \/>\ntersenyum.<\/p>\n<p>Lanjut<br \/>\nSiswo, sistem irigasi berbasis pompa ini jauh lebih efektif dibandingkan metode<br \/>\nlama yang hanya bisa pasrah menunggu musim hujan. Dengan biaya operasional<br \/>\nsekitar Rp80.000 per jam, air dapat disalurkan secara merata ke seluruh lahan<br \/>\ntanpa terikat musim. \u201cKalau dulu kami sebut \u2018pupuk Jawa\u2019, artinya andalan kami<br \/>\ncuma hujan. Sekarang tidak lagi. Panen jadi pasti,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Kisah<br \/>\nsenada juga disampaikan oleh Atmo Wijoyo, petani yang juga merupakan anggota<br \/>\nPerkumpulan Petani Pemakai Air Tanah (P3AT) Desa Blimbing. Menurut Atmo, pompa<br \/>\nair tanah telah menjadi penyelamat bagi para petani di wilayahnya yang rawan<br \/>\nkekeringan. \u201cKalau gak ada sumur bor, bisa gagal panen,\u201d ungkap Atmo.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" style=\"width: 100%\" src=\"https:\/\/imagedelivery.net\/H6_s_Eb_ylTWnSEV3HlmYQ\/95611fb6-e907-4f65-e2d2-87272d7a7600\/public\" alt=\"Image\" \/><\/p>\n<p>Atmo<br \/>\nmenambahkan, berkat pasokan air dari JIAT, para petani kini memiliki<br \/>\nfleksibilitas untuk menanam padi, bawang, dan cabai secara bergantian sepanjang<br \/>\ntahun, sehingga meningkatkan pendapatan mereka. \u201cBawang itu 60 hari sudah bisa<br \/>\npanen. Masih ada untung, bisa buat sekolahkan anak,\u201d ujar Atmo penuh semangat.<\/p>\n<p>Kehadiran<br \/>\nJIAT Blimbing terbukti tidak hanya meningkatkan kepastian panen, tetapi juga<br \/>\nberhasil menekan biaya irigasi pribadi dan memperluas peluang tanam bagi<br \/>\npetani. <\/p>\n<p>Dalam<br \/>\nsebuah temu wicara antara petani dengan Menteri PU, Dody Hanggodo, pada hari<br \/>\nMinggu (5\/10\/2025), sejumlah petani menceritakan bahwa produktivitas gabah<br \/>\nmereka meningkat signifikan hingga 20\u201330 persen per musim tanam. Lebih dari<br \/>\nitu, lahan yang dulunya sering kekeringan kini mudah diolah menjadi lahan<br \/>\nhortikultura yang bernilai ekonomi tinggi.<\/p>\n<p>Kepada<br \/>\npetani, Menteri PU Dody Hanggodo menyampaikan bahwa pembangunan JIAT merupakan<br \/>\nbagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional<br \/>\nmelalui pemanfaatan sumber daya air tanah yang berkelanjutan. &#8220;Harapannya<br \/>\nprogram ini bukan hanya meningkatkan hasil panen, tapi juga menumbuhkan ekonomi<br \/>\npedesaan dan memperkuat ketahanan pangan bangsa,\u201d kata Menteri Dody.<\/p>\n<p>Kementerian<br \/>\nPU melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air akan terus memperluas<br \/>\npembangunan JIAT di berbagai daerah potensial di seluruh Indonesia, khususnya<br \/>\ndi wilayah-wilayah dengan keterbatasan sumber air permukaan. Diharapkan,<br \/>\nprogram JIAT dapat memberikan manfaat yang lebih luas untuk membuka peluang<br \/>\ntanam pada sektor pertanian, meningkatkan kesejahteraan petani, dan pada<br \/>\nakhirnya memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Program kerja ini<br \/>\nmerupakan bagian dari \u201cSetahun Bekerja, Bergerak &#8211; Berdampak\u201d dalam menjalankan<br \/>\nASTA CITA dari Presiden Prabowo Subianto.<\/p>\n<p>#SigapMembangunNegeriUntukRakyat<\/p>\n<p>#SetahunBerdampak<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gunungkidul, 6 Oktober 2025 &#8211; Kehadiran Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di Dukuh Bulak Blimbing, Kelurahan Karangrejek, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, telah membawa perubahan besar bagi para petani setempat. Sistem irigasi modern yang bersumber dari air tanah ini kini menjadi tumpuan baru dalam menjaga produktivitas lahan pertanian petani [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":31415,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-31413","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/31413","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=31413"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/31413\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31414,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/31413\/revisions\/31414"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/31415"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=31413"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=31413"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=31413"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}