{"id":28997,"date":"2025-09-09T13:14:37","date_gmt":"2025-09-09T04:14:37","guid":{"rendered":"https:\/\/asiajournaux.com\/?p=28997"},"modified":"2025-09-09T13:43:01","modified_gmt":"2025-09-09T04:43:01","slug":"poe-life-ketika-manusia-berteman-dengan-teknologi-untuk-kedalaman-berekspresi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/asiajournaux.com\/?p=28997","title":{"rendered":"Poe-Life: Ketika Manusia Berteman dengan Teknologi untuk Kedalaman Berekspresi"},"content":{"rendered":"\n<p>Kemajuan teknologi<br \/>\ntelah mengubah cara manusia dalam berelasi dan menjalin komunikasi baik dengan<br \/>\nmanusia lain maupun dengan teknologi itu sendiri. Di satu sisi teknologi<br \/>\nmembawa harapan baru untuk menciptakan kesempatan serta mempersempit<br \/>\nkesenjangan, namun disisi lain teknologi terkadang membawa kesenjangan antar<br \/>\nmanusia. Menyadari dinamika interaksi manusia dan teknologi, maka munculah<br \/>\ndiskusi mengenai perlunya empati yang bertemu dengan teknologi.<\/p>\n<p> Sebagai<br \/>\naplikasi penulisan, Creative Digital English, Fakultas Humaniora, BINUS University mengusung pertemuan antara empati dan teknologi bernama Poe-Life.<br \/>\nPoe-life adalah aplikasi penulisan puisi kreatif dengan tujuan utama<br \/>\nmenciptakan media alternatif terapi puisi (disebut juga &#8220;Sanative<br \/>\nWriting&#8221;), sebagai upaya untuk menemani (menghasilkan materi konseling)<br \/>\nbagi siapa saja yang membutuhkan ekspresi tantangan hidup yang lebih dalam. Aplikasi ini telah<br \/>\nmenerapkan teknologi empati di mana manusia masih dianggap memiliki emosi dan<br \/>\nempati, serta memegang kendali, sehingga generator puisi berbantuan AI<br \/>\n&#8220;dapat mendukung orang terhubung satu sama lain dan dengan diri kita<br \/>\nsendiri dengan cara yang paling manusiawi&#8221; (Crum, 2022). <\/p>\n<p>Dalam proses<br \/>\npembuatan puisi, pengguna diberi kebebasan apakah menggunakan AI atau<br \/>\nmelanjutkan secara manual, murni dari ekspresi mereka sendiri. Bahkan setelah mereka memilih untuk menggunakan AI, mereka masih<br \/>\nmengendalikan prosesnya. AI (bernama Plath\u2014dari Sylvia Plath) hanya melanjutkan<br \/>\nkata atau baris pengguna dengan menyarankan 3 hingga 5 kata, yang dapat mereka<br \/>\nedit, gunakan, atau hapus. Dialog ini dapat terjadi sejauh pengguna<br \/>\nmembutuhkannya hingga emosi atau ide yang tertekan diekspresikan dengan baik,<br \/>\ndiiringi musik latar, mendukung nuansa emosi yang dipilih (senang, sedih, atau<br \/>\nmarah). <\/p>\n<p>Dalam prosesnya, pengguna dapat menggunakan bank kata yang disediakan<br \/>\nuntuk kategori kata penyembuhan dan menyakitkan, dengan terjemahan bahasa<br \/>\nIndonesia juga.\u00a0 Setelah puisi selesai,<br \/>\npengguna memiliki dua opsi: mereka dapat membagikannya dengan teman-teman<br \/>\nmereka, masyarakat umum, dan fasilitator (profesor pembinaan), atau mereka<br \/>\ndapat menyimpannya untuk diri mereka sendiri dan hanya membagikannya dengan<br \/>\nfasilitator. Setelah dibagikan, pengguna lain di komunitas dapat berkomentar,<br \/>\nmemberikan emotikon cinta\/suka dan empati, dan berbagi. Diharapkan seluruh<br \/>\nproses dapat memberikan pengalaman penyembuhan pribadi kepada pengguna dan juga<br \/>\nmateri puitis tertulis untuk diskusi hangat lebih lanjut dengan konselor bila<br \/>\ndibutuhkan. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kemajuan teknologi telah mengubah cara manusia dalam berelasi dan menjalin komunikasi baik dengan manusia lain maupun dengan teknologi itu sendiri. Di satu sisi teknologi membawa harapan baru untuk menciptakan kesempatan serta mempersempit kesenjangan, namun disisi lain teknologi terkadang membawa kesenjangan antar manusia. Menyadari dinamika interaksi manusia dan teknologi, maka munculah diskusi mengenai perlunya empati yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28999,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-28997","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28997","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=28997"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28997\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28998,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28997\/revisions\/28998"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/28999"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=28997"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=28997"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=28997"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}