{"id":26962,"date":"2025-08-17T12:41:10","date_gmt":"2025-08-17T03:41:10","guid":{"rendered":"https:\/\/asiajournaux.com\/?p=26962"},"modified":"2025-08-17T12:43:06","modified_gmt":"2025-08-17T03:43:06","slug":"sentuhan-yang-mengikat-emosi-sensory-marketing-jadi-strategi-baru-brand-kecantikan-menarik-gen-z","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/asiajournaux.com\/?p=26962","title":{"rendered":"Sentuhan yang Mengikat Emosi: Sensory Marketing Jadi Strategi Baru Brand Kecantikan Menarik Gen Z"},"content":{"rendered":"\n<p><i>Jakarta, Agustus 2025<\/i> \u2014 Industri kecantikan global kini tidak hanya menjual hasil akhir di wajah, tetapi juga p<b>engalaman menyeluruh yang terasa melalui indera.<\/b> Mulai dari tekstur, aroma, hingga suara dan desain kemasan, <b>strategi sensory marketing<\/b> tengah menjadi pendekatan populer di kalangan brand kecantikan\u2014khususnya untuk menjangkau Gen Z yang sangat mengutamakan koneksi emosional dengan brand.<\/p>\n<h3>\u2728 Why Sensory Marketing Works for Gen Z?<\/h3>\n<p>Generasi Z adalah generasi yang tumbuh di tengah kelelahan digital, overstimulation, dan keinginan kuat untuk kembali ke hal-hal yang nyata dan personal. Di tengah cepatnya tren yang berganti setiap hari, Gen Z mencari <b>produk yang punya rasa, cerita, dan sensasi.<\/b><\/p>\n<p>Dengan sensory marketing, brand tidak hanya menyentuh permukaan kulit\u2014tetapi juga menyentuh perasaan.<\/p>\n<h3>\ud83c\udf08 Brand Kecantikan Dunia yang Sukses Terapkan Sensory Marketing<\/h3>\n<h4>1. Rhode by Hailey Bieber <\/h4>\n<p>Setiap produk Rhode dirancang dengan tekstur seperti glaze, warna netral yang calming, dan kemasan yang halus serta ergonomis. Bahkan campaign-nya mengedepankan sensasi &#8220;effortless hydration&#8221; yang terasa saat produk menyentuh bibir dan kulit.<\/p>\n<h4>2. Rare Beauty <\/h4>\n<p>Rare Beauty dikenal dengan aplikator yang empuk dan \u201cklik\u201d magnetik saat ditutup\u2014menciptakan tactile satisfaction. Formula yang ringan dan tekstur yang &#8220;cushiony&#8221; juga membuat penggunanya merasa lebih intimate dengan produknya.<\/p>\n<h4>3. Glossier <\/h4>\n<p>Pioneer dalam sensory branding: dari desain kemasan yang minimalis namun taktil, hingga aroma khas milky-clean yang membuat penggunanya merasa nyaman. Unboxing Glossier sendiri adalah bagian dari sensasinya.<\/p>\n<h4>4. Sheglam <\/h4>\n<p>Menggabungkan warna playful dan tekstur creamy dalam eyeshadow dan lip product-nya. Banyak dari kampanye mereka meng-highlight ASMR, swatch satisfying, dan kemasan \u201cclicky\u201d yang bikin candu secara sensorial.<\/p>\n<h4>5. Jacquelle Espresso Brush: Menyentuh Indra, Menghadirkan Emosi<\/h4>\n<p>Salah satu brand lokal yang sukses memadukan strategi ini adalah Jacquelle Beaut\u00e9 melalui produk terbarunya: <b>Espresso Multitasking Brush.<\/b> Terinspirasi dari pengalaman minum kopi di pagi hari, koleksi brush ini bukan hanya fungsional, tapi juga dirancang untuk <b>menghadirkan sensasi comforting, deep, dan hangat layaknya espresso pertama yang kamu nikmati di awal hari.<\/b><\/p>\n<h3>Beauty Is Not Just Seen, But Felt<\/h3>\n<p>Sensory marketing bukan sekadar tren, tapi <b>cara baru membangun loyalitas emosional.<\/b> Produk yang terasa nyata, memicu kenangan atau memberikan rasa tenang menjadi lebih dari sekadar alat kecantikan\u2014mereka jadi bagian dari keseharian dan identitas penggunanya.<\/p>\n<p><b>Dari New York ke Jakarta, dari Glossier hingga Jacquelle, beauty is getting personal. And Gen Z loves it that way.<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, Agustus 2025 \u2014 Industri kecantikan global kini tidak hanya menjual hasil akhir di wajah, tetapi juga pengalaman menyeluruh yang terasa melalui indera. Mulai dari tekstur, aroma, hingga suara dan desain kemasan, strategi sensory marketing tengah menjadi pendekatan populer di kalangan brand kecantikan\u2014khususnya untuk menjangkau Gen Z yang sangat mengutamakan koneksi emosional dengan brand. \u2728 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26964,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-26962","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26962","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=26962"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26962\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26963,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26962\/revisions\/26963"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/26964"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=26962"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=26962"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=26962"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}