Headline
[ มหัศจรรย์หิมะและซากุระ ] สัมผัสโลกอีกใบที่ระดับความสูง 1,900 เมตร ณ หมู่บ้านโอตาริ จังหวัดนากาโนะ ดื่มด่ำกับความยิ่งใหญ่ของ “กำแพงหิมะ” และสนุกกับ “กิจกรรมหิมะในฤดูใบไม้ผลิ” แบบเป็นส่วนตัว เปิดให้บริการตั้งแต่ช่วงต้นฤดูใบไม้ผลิจนถึงวันที่ 6 พฤษภาคมนี้ และเตรียมพบกับอุทยานธรรมชาติสึกาอิเกะที่จะเปิดให้เข้าชมตั้งแต่วันที่ 6 มิถุนายนเป็นต้นไป
Lintasarta Salurkan Program Sosial Ramadan bagi Lebih dari 1.500 Penerima Manfaat di Berbagai Kota
Lucky Avianto Jabat Pangkogabwilhan III, Jenderal Cerdas yang Jadi Momok KKB Papua
KAI Services Hadirkan Berbagai Program Layanan Untuk Penumpang Selama Masa Angleb 2026
[Miracle of Snow & Cherry Blossoms] A World Apart at 1,900m: Exclusive Experience of “Snow Walls” and “Spring Snow Play” in Otari Village, Nagano. Special Early Spring Operations through May 6; Tsugaike Nature Park Opens June 6.
[Himala ng Niyebe at Cherry Blossoms] Isang natatanging karanasan sa taas na 1,900m: Maranasan ang “Snow Walls” at “Spring Snow Play” sa Otari Village, Nagano. May espesyal na operasyon sa maagang tagsibol hanggang Mayo 6; magbubukas ang Tsugaike Nature Park sa Hunyo 6.
Indonesia’s Data Privacy Law Is Reshaping Compliance for Every Business
KRAS REBORN: Strategi Baru Krakatau Steel Perkokoh Fondasi Organisasi
Pahami Peran Gizi Seimbang dan Gula bagi Tubuh sebagai Kunci Energi Selama Puasa

Face Recognition Attendance App, Inovasi AI dari Dua Siswa BINUS SCHOOL Simprug

Dua siswa kelas 6 BINUS SCHOOL Simprug, Cedric dan Anderson, berhasil mengembangkan face recognition attendance app berbasis AI yang lahir dari keinginan sederhana untuk mempermudah proses absensi di sekolah. Dengan bimbingan guru Education Technology, Mr. Albert, serta dukungan ekosistem BINUS hingga ke level universitas, keduanya belajar machine learning, melakukan berbagai uji coba, dan mengatasi tantangan akurasi pengenalan wajah Asia. Inovasi ini tidak hanya menjawab kebutuhan praktis, tetapi juga melahirkan inisiatif baru berupa AI Club sebagai wadah siswa untuk berkolaborasi dan berinovasi bersama. Kisah mereka menjadi bukti bahwa dengan semangat, dukungan, dan lingkungan belajar yang tepat, anak-anak dapat menjadi pelopor perubahan sejak dini.

Di tengah maraknya perbincangan global tentang kecerdasan buatan (AI), mulai dari chatbot, virtual assistant, hingga penerapannya di berbagai bidang, dua siswa kelas 6 BINUS SCHOOL Simprug, Cedric dan Anderson, membuktikan bahwa AI bukan hanya milik para pakar atau perusahaan besar. 

Cedric dan Anderson, dua siswa kelas 6 BINUS SCHOOL Simprug yang sukses ciptakan face recognition attendance app berbasis AI. (Dok. BINUS SCHOOL)

Sejak dini, mereka menjadikan teknologi ini sebagai ruang belajar sekaligus wadah inovasi untuk menciptakan solusi nyata.

Perjalanan itu dimulai sejak mereka duduk di kelas 5 pada 2024. Selama periode tersebut, Cedric dan Anderson terus mengembangkan face recognition attendance app, sebuah aplikasi yang dapat mempercepat dan mempermudah proses absensi. 

Ide tersebut lahir dari pengamatan sederhana, proses presensi di kelas sering memakan waktu. Apalagi, jika ada siswa yang lupa membawa ID card.

Bagi keduanya, proyek itu bukan sekadar tugas sekolah, melainkan wujud nyata dari bagaimana teknologi bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. 

Image

Dengan bimbingan dari Mr Albert, guru subyek education technology yang mendampingi mereka, Cedric dan Anderson tidak hanya belajar dasar-dasar machine learning dan kecerdasan buatan, tetapi juga mengikuti pelatihan serta mendapat referensi terbaik dari dosen-dosen BINUS University. 

Dukungan ini memperlihatkan bagaimana ekosistem BINUS, dari sekolah hingga universitas, saling terhubung dalam menumbuhkan semangat inovasi sejak dini.

Namun, prosesnya tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah membangun sistem yang dapat mengenali wajah Asia dengan akurat. 

Hal tersebut membutuhkan banyak uji coba, eksperimen, dan perbaikan berulang kali (trial and error) sebelum aplikasi bisa digunakan dengan baik. Dari tantangan itulah mereka belajar bahwa inovasi membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

“Awalnya, saya ingin mengaplikasikan apa yang saya pelajari untuk mengatasi masalah presensi di sekolah karena banyak siswa lupa membawa ID card-nya,” ujar Cedric

Tidak berhenti di situ, semangat keduanya juga melahirkan inisiatif baru, yaitu mendirikan AI Club di BINUS SCHOOL Simprug.

Dengan dukungan penuh dari Mr. Albert dan pihak sekolah, klub itu mampu menjadi wadah resmi bagi siswa lain untuk bereksplorasi di dunia AI, berkolaborasi, dan menciptakan inovasi bersama. 

“Setelah face recognition attendance app, saya terinspirasi untuk membuat AI Club dengan Mr Albert,” tambah Cedric.

Apa yang dilakukan Cedric dan Anderson membuktikan bahwa usia bukanlah batasan untuk berinovasi. 

Dengan semangat, dukungan guru, dan lingkungan belajar yang tepat, anak-anak bisa menjadi pelopor perubahan sejak dini.

BINUS SCHOOL Simprug sendiri terus menghadirkan ekosistem belajar yang menumbuhkan rasa ingin tahu, menghargai ide baru, serta merayakan inovasi. 

Kisah Cedric dan Anderson adalah bukti nyata bahwa di BINUS SCHOOL, siswa tidak hanya belajar tentang masa depan, tetapi juga ikut menciptakannya.

Back To Top